Berita Kampus 
Kayu sebagai sumber bioetanol
Satu lagi faedah kayu: menjadi bensin. Semakin keras kayu kian banyak menghasilkan bensin.
Prof Dr Ir Wasrin Syafii MAgr, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, meriset kayu sebagai bahan baku bioetanol. Dalam riset itu ia menggunakan 4 jenis kayu: pinus Pinus merkusii, sengon Paraserianthes falcataria, gemelina Gmelina arborea, serta kelapa sawit Elaeis guineensis. Rendemen kayu kelapa sawit paling rendah (lihat tabel). ‘Bahan baku bioetanol sebaiknya dari jenis kayu keras,’ kata Wasrin. Kayu keras lebih banyak mengandung selulosa - bahan baku bioetanol.
Soelaiman Budi Sunarto, produsen bioetanol di Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menyambut baik penelitian Wasrin. ‘Limbah penggergajian di sentra-sentra kayu dan pabrik kayu lapis bisa bertruk-truk setiap hari,’ kata Budi. Pemanfaatan baru sebatas media tanam, baglog jamur, atau pelapis lantai kandang ternak, sisanya terbuang.
Katak Yang Bisa Bernyanyi Ditemukan Di Haiti Kuba
Para ahli konservasi dari Conservation International berhasil menemukan kembali enam jenis katak endemik Haiti. Katak yang ditemukan termasuk jenis yang telah menghilang selama puluhan tahun dan diduga punah serta beberapa di antaranya memiliki suara yang elok seperti nyanyian.
Enam jenis katak yang ditemukan ialah katak Hispaniolan ventriloquial, katak Mozart, katak rumput La Selle, katak Macaya dada berbintik, katak Hispaniola bermahkota, dan katak Macaya burrowing.
Salah satu jenis yang unik adalah katak Hispaniolan ventriloquial. Spesies itu bisa “melempar” suara ke tempat yang jauh sehingga bisa mengecoh predator yang memburunya karena suara katak itu seolah berasal dari tempat lain. Sementara jenis lain yang juga unik adalah katak Macaya burrowing yang suka menggali liang di tanah. Jenis ini punya mata hitam dan kaki belakang berwarna oranye.
Sementara dari namanya, yang tak kalah menarik adalah katak Mozart. Katak ini dinamai mirip nama komponis Wolfgang Amadeus Mozart karena menghasilkan suara yang mirip nada-nada musik. Pada malam hari bunyinya seperti siulan empat nada, sedangkan pada senja dan petang seperti siulan dua nada.
Temuan paling mengejutkan adalah katak rumput La Selle. Jenis tersebut sudah tidak dijumpai selama 25 tahun. Jenis ini adalah satu di antara 48 jenis amfibi yang paling jarang dijumpai di Haiti sehingga menjadi misteri. “Kami mencari satu spesies, tetapi ternyata menemukan harta karun lainnya. Ini mencerminkan ketahanan dan harapan bagi masyarakat Haiti serta satwa liar yang ada,” kata Richard Moore, pemimpin ekspedisi CI ini.
Jenis katak yang hilang ini ditemukan di Haiti pada Oktober tahun lalu. Seperti diketahui, Haiti tahun lalu dilanda gempa dahsyat yang merusak infrastruktur dan memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Moore dan Blair Hedge dari Pennsylvania State University menjadi koordinator penelitian ini. Penemuan tersebut merupakan bagian dari proyek pencarian kembali jenis-jenis amfibi yang kini jarang ditemukan.
IPB Gagas Lokakarya Peluncuran "Green TV"
Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor berencana menggagas lokakarya guna mempersiapkan peluncuran "Green TV" milik kampus tersebut, kata Rektor Prof Dr Herry Suhardiyanto MSc, Jumat di Bogor.
"Kami berencana mengembangkan Green TV, untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat luas," kata Prof Dr Herry Suhardiyanto MSc.
Sebagai upaya menyiapkan televisi yang akan mengangkat tema pendidikan pertanian sebagai menu utama pemberitaan, pihak IPB menggagas penyelenggaraan lokakarya.
Alat Pendeteksi Pohon Tumbang
Deteksi dini terhadap kondisi bagian dalam pohon sangat penting untuk mengetahui potensi tumbangnya pohon, sehingga kasus tumbangnya puluhan pohon di Bogor beberapa waktu lalu hingga memakan korban jiwa, bisa diantisipasi. Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak 2003 telah mempunyai alat pendeteksi kayu yang berasal dari Swiss, namun selama ini baru digunakan untuk penelitian di lingkungan IPB.
Fahutan IPB Temukan Teknik "Gukudan " Rehabilitasi Mangrove
Bogor (ANTARA News) - Pakar mangrove (hutan bakau) dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan-IPB) Prof Dr Ir Cecep Kusmana, MS mengemukakan bahwa tim peneliti IPB berhasil menemukan teknologi "guludan", yang bisa digunakan untuk merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak.
"Saat ini di Indonesia lebih dari 50 persen kawasan mangrove yang ada berada dalam kondisi rusak. Sebagian dari kawasan yang rusak tersebut berupa tapak-tapak khusus yang tidak bisa secara langsung ditanami mangrove. Dengan inovasi teknologi 'guludan' ini tapak khusus tersebut dapat ditanami mangrove," katanya dalam wawancara dengan ANTARA di Bogor, Selasa.
- Halaman :



