Kongkow Bareng Ketum Alumni Fahutan IPB edisi ngopi Lombok: Catatan temu alumni fahutan Komda NTB

Oleh: Agus Sukito (E34)*

“Fahutan… Asikk”

“Itu kode rahasia agar dapat diskon 20% ngopi Oey di Gedung Alumni IPB Bogor”. Bisik Kang Bambang Supriyanto, Ketua Umum Alumni Fahutan IPB. Tapi harus siap dengan pertanyaan berikutnya: “kamu fahutan angkatan berapa?”. Kalau jawabannya salah, ya harga normal. Tapi tetap dijamin puas menyeruput cita rasa kopi Oey racikan para alumni, berapa pun harganya. Kami pun senang dapat tips ngopi hemat, karena jujur banyak kawan-kawan di daerah yang belum tahu keberadaan gerai kopi usaha himpunan alumni itu.

Cerita itu terjadi di malam minggu pertama bulan November 2019. Udara pulau Lombok kemarin terasa panas dan kering. Sudah 2 bulan lebih tidak turun hujan di Lombok. Tapi malam minggu ini agak berbeda. Rupanya angin laut malam ini terasa mengalir semilir mendinginkan suasana. Kami sengaja “menculik” Kang Bambang dari sebuah hotel di tengah kota Mataram untuk ngopi-ngopi bareng di out door coffee shop pinggiran kota.

Suasana temu alumni antara Kang Bambang Supriyanto dengan kami, alumni fahutan IPB Komda NTB pun terasa hangat, akrab dan cair, meski obrolan serius soal eksistensi, filantropi, dan regenerasi juga mewarnai pertemuan. Siang sebelumnya kami sudah melewati diskusi berat persoalan kehutanan dan perhutanan sosial di Seminar Nasional KOMHINDO, bersama kawan-kawan rimbawan dari berbagai pelosok nusantara.

Bicara soal eksistensi ini, saya ingin sedikit cerita hal yang kurang serius. Usai pembukaan acara Seminar Nasional KOMHINDO 2019, Ketua Alumni Fahutan Komda NTB, Dr. Siti Latifah yang akrab disapa Teh Dewi, berbisik ke saya, “Mumpung ada Pak Ketum, gimana kalau kita ngumpul-ngumpul? Saya juga berharap ada yang gantiin saya jadi Ketua Komda nih.” Saya pikir itu ide bagus. Rasanya sudah berapa kali puasa kita gagal ngumpul bareng. Maklum alumni Fahutan IPB memang orang sibuk semua. Tanpa pikir panjang, saya koordinasi bersama adik-adik junior untuk mencari tempat dan konsolidasi dengan alumni yang lain.

Kenapa acara ngariung bareng Kang Bambang ini penting? Jawabnya adalah EKSISTENSI. Sulit kita katakan bahwa Alumni Fahutan IPB ada di NTB kalau ngumpul bareng aja gak bisa. Apalagi ada Pak Ketum. Sederhananya, ini adalah soal eksistensi Komda NTB di depan Ketua Umum. Tentu ini ukuran paling sederhana. Secara lebih luas, ngumpul bareng adalah kunci silaturahim dan konsolidasi ide serta gerakan untuk pengabdian di masyarakat. Jadi, perluasan maknanya adalah, eksistensi Komda NTB juga sedang dipertaruhkan kiprahnya di masyarakat.

Faktanya adalah, Alumni Fahutan IPB di mana-mana selalu menjadi ujung tombak bergeraknya Himpunan Alumni IPB. Apa yang terjadi di NTB merupakan contoh nyata. Alumni Fahutan telah ada beberapa tahun sebelum gempa Lombok terjadi, barulah setelah gempa, HA IPB dapat diwujudkan melalui inisiasi Alumni Fahutan. Maka tidak heran apabila Ketua HA IPB NTB terpilih juga adalah Ketua Alumni Fahutan IPB, Dr. Siti Latifah. Melalui gerakan peduli gempa Lombok, konsolidasi alumni Fahutan terbukti efektif menyalurkan berbagai bantuan kepada korban gempa.

Pihak lain yang bisa memberikan testimoni soal eksistensi alumni fahutan adalah mahasiswa tingkat akhir dan yang baru saja lulus. Mereka ini harus mencari lokasi magang untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Yang telah selesai tugas akhir dan lulus pun lalu butuh pekerjaan. Tidak sedikit cerita sukses mereka karena dibantu oleh keberadaan alumni. Tentu saja, efektifitas peran alumni ini harus terus ditingkatkan seiring tantangan yang terus berubah. Karenanya, budaya ngariung offline bareng alumni ini tidak akan bisa diganti dengan ngariung online di WAG dan sejenisnya. Ya, lagi-lagi untuk konsolidasi dan menjaga eksistensi alumni.

Kembali ke soal ngopi bareng Pak Ketum. Sambil menyeruput kopi Lombok, kopi lokal yang mulai masuk di gerai-gerai kopi di berbagai objek wisata di Pulau Lombok, Kang Bambang cerita tentang bisnis kopi Oey punya alumni. Saat baru memegang estafet kepemimpinan di HA E, rupanya ada masalah dengan usaha kopi tersebut. Pengelola kopi bahkan berhutang ke HA E puluhan juta rupiah. Bisnis dengan filantropi memang harus dipisah kalau tidak ingin terjadi masalah. Maka bisnis kopi Oey lalu dibenahi. Bahkan manajemen baru bisnis kopi Oey diwajibkan membayar hutang ke HA E sebesar Rp 10 juta per bulan. Dan upaya ini ternyata berhasil. Hutang kopi Oey ke HA E lunas. Bahkan per bulan, kopi Oey tetap “membayar” Rp 10 juta ke alumni sebagai sumbangan. Ternyata kunci keberhasilan pengelola baru kopi Oey adalah profesionalisme dan memilih pengelola dengan passion yang tepat. Orang dengan passion jualan kopi yang tepat akan dapat berselancar dengan segala tantangan bisnisnya. Yang paling penting, pengelolanya bisa tetap happy karena itu semacam hobi. Katanya mengelola bisnis sesuai hobi itu ibarat menerangi semua orang, tidak seperti terangnya lilin yang membunuh diri sendiri.

Berbekal pengalaman mengelola kopi Oey, tidak heran lalu HA E IPB lalu membuka sayap bisnis yang lain. Kerja sama dengan PT. Pemalang Agro Wangi (PAW) dibangun untuk mengembangkan atsiri untuk komoditi sereh wangi.

Tapi benar, bahwa jiwa filantropi itu dasar membangun gerakan yang besar. Orang dengan jiwa filantropi yang tinggi, akan memiliki semua hal. Pepatah arab mengatakan: “orang yang tidak punya tidak akan dapat memberi”. Filantropis itu belum tentu kaya, karena banyak orang kaya yang merasa miskin sehingga takut memberi. Filantropis juga bukan berarti orang yang punya banyak waktu. Tapi filantropis selalu dapat memberikan waktunya di tengah kesibukan beraktivitas. Jadi filantropis itu lebih kepada “hati dan otak yang besar” sehingga dapat menampung dan menyelesaikan banyak persoalan melalui pengelolaan komunitas.

Maka, menjaga dan membangun jiwa filantropi itu kunci melakukan regenerasi. Itu pendapat Kang Bambang ketika Teh Dewi menyampaikan keinginannya agar segera dilakukan regenerasi pengurus alumni fahutan di NTB. Wajar memang, karena HA IPB NTB juga perlu dikelola di tengah beberapa amanah baru sang ketua sebagai dosen Universitas Mataram. Tapi itu semua memang tidak mudah. Tidak banyak dari kita yang bisa selalu punya waktu buat ngumpul bareng alumni misalnya. Jadi, siapa pun yang jadi ketua, kalau tidak membangun jiwa filantropi bersama, akan terbentur dengan persoalan yang sama.

Semua sepakat akhirnya. Bahwa eksistensi, jiwa filantropi dan regenerasi harus terus dijaga. Kalau ingin kiprah alumni Fahutan selalu ada.

Entah mengapa, aura kota hujan seolah datang menutup malam ini. Tetiba hujan rintik-rintik pertama di Pulau Lombok, turun membersamai langkah kami yang beranjak pergi. Tentu dengan semangat kebersamaan yang baru.

*Peneliti di Balai Litbang Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, Mataram. Email: sukitokun@gmail.com. HP.087770003883

Leave a Reply