Rinekso Soekmadi : “Pemimpin harus menjadi motor dan mengawal perubahan”

Bogor – HAE, ​Pemimpin harus menjadi motor dan mengawal perubahan. Itulah yang menjadi prinsip Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Rinekso Soekmadi. Menurut pria kelahiran Banyuwangi, 22 Juni 1964 yang baru menjabat orang nomor satu di fakultas kehutanan dua tahun lalu itu, tidak akan mungkin sebuah kemajuan dicapai tanpa melalui perubahan.

“Walaupun perubahan belum tentu menyebabkan kemajuan, namun tanpa perubahan tidak mungkin akan mengalami kemajuan, capaian tertinggi tanpa perubahan adalah sama dengan capaian sebelumnya. Jadi, perubahan merupakan keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap pemimpin, “ ujar lulusan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB 1987 itu.
Prinsip itulah yang selalu dipegang teguh Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB 2002 – 2008 itu dalam bekerja. Oleh karenanya, peraih gelar master dan doktor dari Georg-August Universität Göttingen itu selalu membuat berbagai perubahan dalam pekerjaan yang dijalaninya.
Saat menjadi ketua departemen/jurusan konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata, Rinekso bersama staf di departemennya berhasil mengangkat posisi departemen dari urutan 34 pada 2003 menjadi 10 besar pada 2008. “Pencapaian ini dilakukan melalui kerja keras tim di departemen di bawah komitmen kepemimpinan yang fokus dan konsisten menuju perubahan yang positif,” katanya.
Kemudian, saat diberikan amanah menjadi Direktur Kerjasama dan Program Internasional IPB (2008-2013), Ia berhasil memperjuangkan bantuan dan kemudahan bagi staf pengajar/tenaga kependidikan yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri, berupa pengurusan dokumen internasional sebagai salah satu wujud apresiasi IPB. Ketika menjadi Direktur Kemahasiswaan IPB (2013-2015),  dia berhasil menambah satu sub direktorat tentang mobilitas internasional bagi mahasiswa guna mendorong reputasi internasionalisasi IPB  dari perspektif kemahasiswaan.
Selain itu, dirinya juga meletakkan landasan yang kuat bagi sistem pembinaan minat, bakat dan penalaran mahasiswa sebagai salah satu bagian terpenting dalam kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa. Pengembangan kegiatan AGRISYMPHONI sebagai bagian dari _welcoming party_ bagi mahasiswa baru yang menampilkan berbagai budaya nusantara merupakan gagasan pembaruan yang kemudian diintegrasikan dengan kegiatan Dies Natalis IPB.
“Hal ini merupakan perubahan signifikan dalam pengembangan kegiatan kemahasiswaan,” ujar pria yang pernah menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Göttingen pada 2001 itu.
Selanjutnya, sebagai dekan yang belum genap 2 tahun menjabat, Ia telah ditunjuk menjadi Ketua Forum Pimpinan Lembaga Pendidikan Tinggi Kehutanan se-Indonesia (FOReTIKA). Forum ini selain melakukan _benchmarking_ kompetensi lulusan dan standarisasi kurikulum program studi kehutanan, juga melalukan lokakarya minimal 2 kali dalam setahun untuk membahas isu-isu kekinian bidang pendidikan tinggi, serta isu-isu kehutanan dan lingkungan hidup untuk selanjutnya menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah terkait.
Bersama team teaching, Rinekso mengampu beberapa mata kuliah: konservasi sumberdaya alam hayati, manajemen kawasan konservasi, kebijakan dan kelembagaan konservasi di pada program sarjana IPB dan Universitas Winayamukti itu memang baru diangkat menjadi dekan pada 2015 lalu.

Selain menduduki berbagai jabatan struktural, Ia juga melakukan berbagai penelitian, terutama di bidang konservasi dan manajemen kawasan. Dalam kiprahnya di dunia kehutanan, ia juga menjadi anggota penyusun rencana kehutanan nasinonal dan rencana makro pemanfaatan hutan oleh Badan Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan. Selain itu Rinekso juga beberapa kali diminta sebagai tim monitoring dan evaluasi proyek kerjasama Indonesia – Jerman utk bidang Kehutanan yg disponsori oleh GTZ/GIZ
Berbagai karya tulis ilmiah, dipiblikasikan di jurnal dalam negeri maupun internasional. Pengelolaan Kawasan Konservasi sebagai Benteng Terakhir Konservasi SDAH: Sebuah Tuntutan Pergeseran Paradigma Pengelolaan Kawasan Konservasi di Era Otonomi merupakan salah satu artikel yang banyak dan disitir peneliti.
Ia juga rajin menyusun berbagai makalah tentang konservasi, dan mempresentasikannya pada berbagai konferensi, lokakarya, seminar dan symposium di berbagai negara. Selain itu, Ia juga aktif melakukan pengabdian masyarakat seperti kegiatan Pembimbingan Teknis terhadap 6 Kabupaten Konservasi: Kab. Lampung Barat (Lampung), Lebong (Bengkulu), Kuningan (Jabar), Malinau (Kaltim/ Kaltara), Paser (Kaltim) dan Kapuas Hulu (Kalbar) 2005 – 2007. Sampai saat ini, Ia juga masih aktif menjadi pendamping DP3K TNKM (Dewan Pengendali dan Pengarah Pengelolaan Kolaboratif TN Kayan Mentarang).
Satu cita-citanya yg akan segera diwujudkan adalah pembangunan arboretum Taman Hutan Kampus Darmaga yang diintegrasikan dengan pengembangan edutourism, pendidikan, dan upaya konservasi ex-situ terhadap pohon dan buah2an hutan yang langka dan terancam punah.

Leave a Reply