Sejarah dan Harapan di Balik Perubahan Nama Fakultas

Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB menggelar Seri Diskusi I HAPKA XVIII bertajuk Di Balik Perubahan Nama Fakultas Kehutanan Menjadi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan secara virtual pada hari Sabtu, 6 Maret 2021.

Diskusi yang dimoderasi Tuti Herawati, alumnus Fakultas Kehutanan IPB University (Fahutan IPB) angkatan 29 yang kini menjabat sebagai Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung KLHK, membahas latar belakang perubahan nama fakultas serta harapan dan strategi untuk menguatkan kapasitas dan kualitas lulusan dari Fahutan dan Lingkungan IPB University.

Wakil Rektor IPB University Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni, Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa perubahan nama tersebut dapat dilihat dari empat perspektif, yaitu perspektif keilmuan, perspektif peminatan, perspektif peluang, dan perspektif internasionalisasi. Penggunaan nama Fakultas Kehutanan dan Lingkungan semakin menegaskan keterkaitan antara ilmu kehutanan dan ilmu lingkungan yang sangat kuat, dimana hal ini akan meningkatkan nilai jual fakultas dan memperluas peluang karir bagi para alumnusnya sekaligus peluang kontribusi bagi pencapaian target-target pembangunan kehutanan dan lingkungan global.


Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University periode 2015-2020, Rinekso Soekmadi, menambahkan lima hal yang melatarbelakangi perubahan nama fakultas. Pertama, perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah kepemimpinan. Kedua, secara faktual pembangunan kehutanan menghadapi ‘masa sulit’ berkepanjangan dan sudah bergeser ke non-timber based. Ketiga, jumlah calon mahasiswa yang menaruh Fakultas Kehutanan sebagai pilihan pertama cenderung rendah sehingga membutuhkan sebuah terobosan. Keempat, ada momentum untuk melakukan perubahan, yaitu adanya evaluasi kurikulum 2013. Dan terakhir, Rinekso menyebutkan bahwa Rektor IPB University periode 2012-2017, Herry Suhardiyanto dan suksesornya, Arif Satria,meminta agar Fahutan segera berubah untuk ‘mengakuisisi’ program studi yang tidak memiliki induk fakultas.

Selain itu, diskusi ini juga membahas respons dari kalangan birokrat dan sektor swasta atas perubahan nama ini. Dari kalangan birokrat, Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK alumnus Fahutan IPB angkatan 18, memberikan respons atas perubahan ini. “Saya berharap adanya peningkatan kualitas pendidikan kehutanan dan lingkungan agar melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas dan profesional inovasi-inovasi yang berkontribusi signifikan dalam menghadapi permasalahan kehutanan dan lingkungan hidup yang semakin kompleks,” papar Agus.

Sementara itu, Aisyah Sileuw, alumnus Fahutan IPB angkatan 26 yang saat ini duduk sebagai Presiden Direktur Daemeter Consulting, menyatakan bahwa perubahan ini membuka peluang karir yang sangat luas, tak hanya karir berbasis kayu, namun juga jasa lingkungan, perubahan iklim, dan bisnis-bisnis kehutanan dan lingkungan lainnya.

Serupa dengan sektor pelayanan publik, sektor swasta juga membutuhkan profesional yang ahli dan berkualitas, tidak melulu dari luar negeri. “Kampus diharapkan dapat menyediakan sarana untuk mendorong mahasiswa agar dapat menciptakan inovasi-inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional dan handal dalam menghadapi isu-isu kehutanan dan lingkungan terkini,” tambah Aisyah.

Dihadiri hampir 200 peserta, para partisipan terlibat aktif dalam diskusi dan menaruh harapan besar atas perubahan nama Fakultas Kehutanan menjadi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan.*

Leave a Reply